<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel><title>Ekowisata on Pariwisata Berkelanjutan</title><link>https://pariwisataberkelanjutan.com/categories/ekowisata/</link><description>Recent content in Ekowisata on Pariwisata Berkelanjutan</description><generator>Hugo</generator><language>id</language><lastBuildDate>Tue, 20 Jan 2026 09:00:00 +0800</lastBuildDate><atom:link href="https://pariwisataberkelanjutan.com/categories/ekowisata/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Geopark Batur: Menyeimbangkan Wisata Geologi dengan Konservasi Alam UNESCO</title><link>https://pariwisataberkelanjutan.com/posts/geopark-batur-sustainable/</link><pubDate>Tue, 20 Jan 2026 09:00:00 +0800</pubDate><guid>https://pariwisataberkelanjutan.com/posts/geopark-batur-sustainable/</guid><description>&lt;p>Terletak di ketinggian Kintamani, &lt;strong>Batur Global Geopark&lt;/strong> bukan sekadar destinasi pendakian untuk mengejar matahari terbit. Sebagai taman bumi pertama di Indonesia yang masuk dalam daftar UNESCO Global Geoparks, kawasan ini memikul tanggung jawab besar: melindungi keragaman geologi (&lt;em>geodiversity&lt;/em>) sambil memastikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal tetap mengalir.&lt;/p>
&lt;h3 id="kaldera-ganda-dan-sejarah-letusan-hebat">Kaldera Ganda dan Sejarah Letusan Hebat&lt;/h3>
&lt;p>Daya tarik utama Geopark Batur terletak pada struktur geologinya yang unik, yaitu &lt;strong>kaldera di dalam kaldera&lt;/strong>. Kaldera luar yang terbentuk ribuan tahun lalu memiliki diameter mencapai 10 x 13 km, menjadikannya salah satu yang terbesar dan terindah di dunia. Di tengahnya, berdiri Gunung Batur yang masih aktif dengan hamparan batu hitam hasil aliran lava membeku.&lt;/p></description></item><item><title>Taman Nasional Tanjung Puting: Ekowisata Berbasis Perlindungan Primata Endemik</title><link>https://pariwisataberkelanjutan.com/posts/konservasi-tanjung-puting/</link><pubDate>Thu, 15 Jan 2026 10:00:00 +0700</pubDate><guid>https://pariwisataberkelanjutan.com/posts/konservasi-tanjung-puting/</guid><description>&lt;p>Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) di Kalimantan Tengah bukan sekadar destinasi liburan, melainkan benteng terakhir bagi kelestarian &lt;strong>Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus)&lt;/strong>. Sebagai pionir ekowisata di Indonesia, kawasan ini berhasil menunjukkan bagaimana industri pariwisata dapat berjalan beriringan dengan misi penyelamatan satwa dan rehabilitasi hutan tropis yang kritis.&lt;/p>
&lt;h3 id="camp-leakey-pusat-riset-dan-rehabilitasi-dunia">Camp Leakey: Pusat Riset dan Rehabilitasi Dunia&lt;/h3>
&lt;p>Titik sentral dari konservasi di Tanjung Puting adalah &lt;strong>Camp Leakey&lt;/strong>. Didirikan pada tahun 1971 oleh Dr. Biruté Galdikas, tempat ini menjadi lokasi riset jangka panjang terlama di dunia untuk primata. Di sini, orangutan yang pernah menjadi korban perdagangan satwa atau kehilangan habitatnya diajarkan kembali untuk bertahan hidup di alam liar.&lt;/p></description></item></channel></rss>