<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel><title>Wisata Edukasi on Pariwisata Berkelanjutan</title><link>https://pariwisataberkelanjutan.com/tags/wisata-edukasi/</link><description>Recent content in Wisata Edukasi on Pariwisata Berkelanjutan</description><generator>Hugo</generator><language>id</language><lastBuildDate>Thu, 15 Jan 2026 10:00:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://pariwisataberkelanjutan.com/tags/wisata-edukasi/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Taman Nasional Tanjung Puting: Ekowisata Berbasis Perlindungan Primata Endemik</title><link>https://pariwisataberkelanjutan.com/posts/konservasi-tanjung-puting/</link><pubDate>Thu, 15 Jan 2026 10:00:00 +0700</pubDate><guid>https://pariwisataberkelanjutan.com/posts/konservasi-tanjung-puting/</guid><description>&lt;p>Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) di Kalimantan Tengah bukan sekadar destinasi liburan, melainkan benteng terakhir bagi kelestarian &lt;strong>Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus)&lt;/strong>. Sebagai pionir ekowisata di Indonesia, kawasan ini berhasil menunjukkan bagaimana industri pariwisata dapat berjalan beriringan dengan misi penyelamatan satwa dan rehabilitasi hutan tropis yang kritis.&lt;/p>
&lt;h3 id="camp-leakey-pusat-riset-dan-rehabilitasi-dunia">Camp Leakey: Pusat Riset dan Rehabilitasi Dunia&lt;/h3>
&lt;p>Titik sentral dari konservasi di Tanjung Puting adalah &lt;strong>Camp Leakey&lt;/strong>. Didirikan pada tahun 1971 oleh Dr. Biruté Galdikas, tempat ini menjadi lokasi riset jangka panjang terlama di dunia untuk primata. Di sini, orangutan yang pernah menjadi korban perdagangan satwa atau kehilangan habitatnya diajarkan kembali untuk bertahan hidup di alam liar.&lt;/p></description></item></channel></rss>